Subscribe: RSS Twitter

Bagian Pertama Oleh: Syahrir Katutu

siriSetiap kelompok memiliki karakter, ciri khas, dan watak budaya yang membedakannya dengan kelompok masyarakat lainnya.

Ciri khas ini biasa akan tampil ketika kita melaksanakan peranan-peranan, misalnya sebagai petani, nelayan, guru, wiraswasta, pemimpin, pengusaha, dan sebagainya, terutama disaat pengambilan keputusan.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan dikenal ada 4 suku budaya di dalamnya, yaitu: suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Keempat suku ini masing-masing mempunyai keunikan tersendiri dan persamaan-persamaan. Kebudayaan itu tersimpan dalam kelompok suku bangsa (etnik) dengan segala system-sistem social yang dimilikinya, disamping nilai-nilai dan gagasan yang terbentuk atas pengaruh kesejahteraan dan ekosistem lingkungannya. Pertanyaan saya sebagai penulis adalah: Apakah masih ada rasa Siri’ Na Pacce/Passe Dijaman Modern (globalisasi) seperti sekarang ini? Bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Biasanya siri’ berhubungan dengan Pacce/Pesse diungkapkan oleh responden suku Makassar, maupun suku Bugis: Punna Tena Siritta Paccetosseng Ammantang (Jeneponto). Rekkua Dek Siritta Engka Messa Passeta (Bugis). Kedua berarti bahwa tidak ada siri’ niscaya masih ada Pacce/Passe. Seseorang responden dari Jeneponto menyatakan bahwa Pacce adalah suatu perasaan yang menyayat hati, pilu bagaikan tersayat sembilu apabila sesame warga masyarakat, keluarga, atau sahabat ditimpa kemalangan, yang menimbulkan suatu dorongan kea rah solidaritas dalam berbagai bentuk terhadap mereka yang ditimpa kemalangan, ditempeleng dimuka umum, diperkosa, kelaparan dan sebagainya.

Antara siri dan Pacce ini keduanya saling mendukung dalam meningkatkan harkat dan martabat manusia, namun kadang-kadang salah satu dari kedua falsafah hidup tersebut tidak ada, martabat manusia akan tetap terjaga, tapi kalau kedua-duanya tidak ada yang banyak adalah kebinatangan. Uangkapan orang makasar berbunyi “Ikambe Mangkasaraka Punna Tena Sirik Nu, Pacce Seng Nipak Bulo Sibatangngang” bagi orang Makassar kalau bukan sirik, Paccelah yang membuat bersatu.

Pacce secara arfiah bermakna persaan pedih dan perih yang dirasakan meresap kedalam kalbu seseorang melihat penderitaan orang lain. Pacce ini berfungsi sebagai alat untuk menggalang persatuan, solidaritas, kebersamaan, rasa kemanusiaan, dan memberi motivasi pula untuk berusaha, sekalipun dalam keadaan yang sangat pelik dan berbahaya.

Budaya Siri’ Na Pacce semacam istilah atau jargon yang dimiliki/mencerminkan identitas serta watak orang Sulawesi Selatan dan prinsip ini, pada umumnya sama, hanya kosa kata yang berbeda.

Siri’ berarti rasa malu (harga diri) sedangkan Pacce atau dalam Bugis (Passe) yang berarti: Pedih/pedas (keras/kokoh pendirian) Jadi Pacce berarti semacam kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau kesusahan individu lain dalam komunitas (solidaritas dan empati)

Siri’ bagi masyarakat Sulawesi Selatan adalah Harga Diri

Kata Siri’ dalam bahasa Makassar atau Bugis bermakna “malu” sedangkan Pacce atau bahasa bugis Passe dapat berarti “tidak tega” atau “kasihan” atau “iba”. Siri dalam budaya Bugis Makassar mempunyai 4 Kategori yaitu:

  1. Siri’ Ripakasiri
  2. Siri’ Mappakasiri
  3. Siri’ Tappela’ Siri’ (Bugis; Taddeng Siri’)
  4. Siri’ Mate Siri’

Kemudian guna melengkapi keempat struktur Siri’ tersebut maka Pacce atau Passe menduduki satu tempat, sehingga membentuk suatu budaya (karakter) yang dikenal dengan sebutan Siri’ Na Pacce.

Siri’ Ripakasiri’

Siri’ ini berhubungan dengan harga diri pribadi, serta harga diri atau harkat dan martabat keluarga. Siri’ jenis ini adalah sesuatu yang sangat tabu dan pantang untuk dilanggar karena taruhannya adalah nyawa. Sebagai contoh dalam hal membawa lari seorang anak gadis (kawin lari) maka prilaku kawin lari, baik laki-laki maupun perempuan, harus dibunuh, terutama oleh pihak keluarga perempuan (gadis yang dibawa lari) karena telah membuat malu keluarga.

Contoh lain; adalah kasus kekerasan, seperti penganiayaan atau pembunuhan, dimana pihak atau keluarga korban yang merasa terlanggar harga dirinya (Siri’Na) wajib untuk menegakkannya kembali, kendati dia harus membunuh atau terbunuh. Utang darah harus dibalas darah. Utang nyawa harus dibalas nyawa.

Dalam kenyakinan orang Bugis/Makassar orang yang mati terbunuh karena menegakkan Siri’, matinya adalah mati syahid atau mereka sebut sebagai Mate Risantangi atau Mate Rikollai, yang artinya bahwa kematiannya adalah ibarat kematian yang terbalut santan atau gula, dan itulah sejatinya kesatria.

Agar dapat mengetahui tetang bagaimana pentingnya menjaga Siri’ untuk kategori Siri’ Ripakasiri’ simaklah falsafah berikut ini: Siri’kaji Nanimamtang ‘ri liona, punna tanamo siri’nu matemako kanikkangngami angga’na olo-oloka. Artinya; hanya karena siri’ kita masih tetap hidup (eksis), kalau sudah malu tidak ada maka hidup ini menjadi hina, seperti layaknya binatang, bahkan lebih hina dari pada binatang.

Siri’ Mappakasiri siri’

Siri’ Jenis ini berhubungan dengan etos kerja. Dalam falsafah Bugis yang disebutkan; Narekko de’gaga siri;mu, inrengko siri’ artinnya; kalau anda tidak punya malu maka pinjamlah kepada orang yang masih memiliki rasa malu (Siri’). Begitu pula sebaliknya, Narekko engka siri’mu, aja mupakasiri’, artinya; kalau anda punya malu, jangan membuat malu (malu-maluin)

Bekerjalah dengan giat, agar harkat dan martabat keluarga terangkat. Jangan menjadi pengemis, karena artinya membuat keluarga menjadi malu atau malu hati.

Hal yang terait dengan siri’ mapakasiri siri’ serta hubungan dengan etos kerja yang tinggi adalah ceritera-ceritera tentang keberhasilan orang-orang bugis Makassar di perantauan.

Siri’ Tappela’ siri’ (Makassar) atau Siri’ Taddeng Siri (Bugis)

Jenis siri’ ini adalah rasa malu seseorang itu hilang “terusik” karena sesuatu hal. Misal ketika seseorang memiliki utang dan telah berjanji untuk membayarnya maka si pihak yang berhutang berusaha sekuat tenaga untuk menepati janjinya atau membayarnya utangnya sebagaimana waktu yang telah ditentukan (Kesepakatan). Ketika sampai waktu tidak menepati janjinya, itu artinya dia telah mempermalukan diri sendiri

Orang Bugis atau orang Makassar yang masih memegang teguh nilai-nilai Siri’, ketika berhutang tidak perlu ditagih karena tanpa ditagih dia akan dating sendiri untuk membayarnya.

 Siri’ Mate siri’

Siri’ yang satu ini, berhubungan dengan Iman. Orang yang Mate siri’ adalah orang yang didalamnya dirinya sudah tidak ada rasa malu (Iman). Sedikitpun orang seperti ini sudah tidak pernah merasa malu, atau bias disebut sebagai bangkai hidup yang hidup. Betapa hina dan tecela orang seperti ini dalam kehidupan masyarakat. Aroma busuk akan tercium dimana-mana. Tidak hanya dilingkungan “istana”, di “gedung rakyat senayan” ditempat tempat ibadah juga bau “busuk” akan menyengat. Korupsi, kolusi, dan Nepostisme, jual beli putusan, mafia anggaran, mafia pajak, serta mafia-mafia lainnya, akan senantiasa mewarnai pemberitaan di media setiap harinya, Nauzubillahi Min Dzalik.

Siri’ menurut kesimpulan Prof. Dr. Hamka, ditunjau dari segi islam, siri’ semata-mata akibat daripada orang yang beriman, sebab orang yang beriman itu pastilah orang yang mempunya akhlak yang tinggi… Syahrir Katutu FB Bersambung  [iP]

Be Sociable, Share!

Coment On Facebook

Leave a Reply

© 6502 Irwan Putra · Subscribe: RSS Twitter · Irwantra Media designed by idp technology