Subscribe: RSS Twitter

ibuDalam sahibul hikayat diceritakan. Hiduplah seorang ibu dengan satu putra kesayangannya, layaknya seorang ibu selalu berharap putra kecilnya tumbuh besar dengan jiwa dan raga yang sehat. Sang ibu selalu memperhatikan dan memastikan kebutuhan putra semata wayang bisa tersedia walaupun tidak selalu sama tersedianya dengan putra dan putri orang yang berkecukupan.

Secara sosial dan ekonomi keluarga ini terbilang “tengah-tengah” tidak berlebih sehingga bisa membantu orang lain, juga tidak kekurangan sehingga harus menengadahkan tangan kepada pihak lain. Sang ibu selalu menumbuhkan semangat pantang menyerah, mental pejuang, patriotisme dan hal-hal lain yang menjadi bekal putranya secara non materi untuk mengadapi masa depan yang belum pasti.

Satu waktu sang anak memasuki tahapan ujian untuk satu cita-cita dan keinginan yang hendak di raih. Sebenarnya anak ini telah mempersiapkan diri dengan baik, tidak akan kecewa jika gagal, dan tidak pula menjadi sombong jika nanti berhasil. Pastinya dia telah mempersiapkan diri dengan baik untuk semua tahapan ujian yang mungkin akan di hadapi.

Dilain sisi, ibunda tercinta terus memberi semangat dan doa yang tiada henti. Pada waktunya karena khawatir akan hasil ujian putranya sang bunda bernazar, nazar yang istimewa dimana nazar ini telah dia periksa dan memastikan belum pernah masuk daftar orang lain. Intinya ibunda ingin bernazar yang istimewa, nazar yang mungkin aneh bagi sebagian orang lain. Tetapi inilah pertaruhan ibunda tercinta.

Sang bunda bernazar : ” jika anak kesayangan saya lulus dalam ujian untuk mendapatkan apa yang dia sangat harapkan, saya akan memberi makan kepada setan” Nazar telah di ikrarkan, tentu harus dipatuhi jika hajatan yang diharapkan membuahkan hasil.

Pada waktunya, ujian sang putra tercinta dinyatakan lulus dan berhasil baik, walaupun dia tidak mengetahui ibundanya telah bernazar untuk itu, sang ibupun bercerita atas nazarnya kepada putranya, dan berencana akan memenuhinya. Yang menjadi persoalan adalah : jika harus memberi makan setan, kemana dan dimana setan itu harus dicari dan ditemukan.

Ibu dan anak bertanya kepada orang sekitar, dan jawabannya adalah No Coment alias tidak ada yang tahu. berhari-hari merreka berdua mencari dimana setan itu berada, sampailah satu ketika seorang memberi saran untuk bertanya alamat setan-setan itu kepada cerdik pandai. Saran itupun dituruti sehingga ditemukanlah alamat dan jenis setan yang akan diberikan makanan untuk menembus nazar yang dimaksud.

Menurut cerdik pandai yang ditemui, jika ingin memberi makan pada setan temukan mereka di beberapa tempat berikut ini:

  1. Di Masjid dan rumah ibadah lainnya : Jika seseorang terburu-buru keluar dari tempat ibadah sebelum tata tertib dan urutan ibadah selesai, berikan makanan itu kepada mereka, karena sesungguhnya hanya setan yang melakukan tindakan seperti itu, atau walaupun dia berwujud manusia sesungguhnya pada dirinya telah dirasuki setan
  2. Di Tempat dimana Ilmu Pengetahuan sedang digali dan ditumbuhkan: Sekelompok orang yang sedang membahas perkembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk kemashlahatan umat manusia. Jika menemukan orang-orang yang tidak betah dalam majelis ilmu, membahas sesuatu diluar konteks, ada perasaan terburu-buru ingin segera menyelesaikan tanpa melihat efek dan pengaruhnya kepada lingkungan, orang inipun berhak atas makanan itu.
  3. Di Meja Makan :  Seseorang yang sedang makan dalam kumpulan orang lainnya, disaat yang sama matanya tidak tertuju kepada makanan yang tersedia dalam wadah atau piringnya sendiri, tetapi tertuju kepada piring-piring makanan orang-orang sekelilingnya, maka orang ini juga perlu diberikan makanan itu.
  4. Banyak lagi sesungguhnya orang-orang yang berhak atas nazar ibu yang baik hati ini, namun sangat luas jika harus diuraikan satu persatu.  pada prinsipnya sangat tipis beda antara setan dan manusia, dan walaupun tipis tetapi sangat jelas bedanya.

Pada dasarnya setan itu terdiri dari golongan jin dan manusia, dan kendali itu ada pada cara berfikir kita. Jika kita ingin selalu menjadi manusia alam ini akan mendukung dengan kuat keinginan kita. demikian juga sebaliknya jika kita ingin menjadi manusia dalam bentuk lain, kita sendiri juga yang menentukannya. Semoga kita tidak harus dicari ibu yang baik hati itu sebagai target Nazarnya, lain hal jika kita memang telah menunggu agar diberi makanannya. /dipublish saat menunggu penerbangan menuju Jogjakarta *Irwan Putra

.

Be Sociable, Share!

Coment On Facebook

Leave a Reply

© 6161 Irwan Putra · Subscribe: RSS Twitter · Irwantra Media designed by idp technology